Thursday, February 28, 2019

PEREMPUAN DALAM GERAKAN


 Pengurus Maperwa FIP UNM periode 2018/2019

Suatu lembaga terdiri dari kumpulan manusia yang memiliki tujuan yang sama dengan visi yang sama. Tentunya dengan demikian lembaga tersebut akan menjadikan SDMnya menjadi manusia yang bisa bersaing dalam kehidupan sosial,sehingga keberadaan perempuan bukan lagi pelengkap bagi kaum laki-laki, perempuan jika mau ia bisa berkarier dan bahkan mengubah dunia. Begitu pun dalam tataran organisasi, peran perempuan amat penting.

Lelaki yang tidak didampingi oleh perempuan,demikian juga sebaliknya bagaikan perahu tanpa sungai,malam tanpa bulan atau biola tanpa senar.

Coba kita  mencermati kedudukan perempuan dalam organisasi kemahasiswaan. Saat ini telah banyak perempuan yang terlibat di organisasi. Namun kebanyakan mereka hanya menjadi bunga-bunga atau penggembira, mereka tidak menempati kedudukan yang cukup penting dalam organisasi. Namun kini kita cukup berbangga jika melihat sudah ada satu dua perempuan yang mau menduduki posisi ketua dalam organisasi. Walaupun belum seperti yang diinginkan, dalam arti belum begitu banyak jumlahya, kita patut mengancungkan jempol kepada perempuan-perempuan yang berani memilih untuk memposisikan dirinya sebagai pemimpin organisasi. 

Karena dari pandangan kasat mata saya,mahasiswa perempuan memiliki indeks prestasi lebih unggul daripada mahasiswa laki-laki. Keunggulan ini merupakan modal awal untuk bergerak maju, ditambah lagi dengan modal kemampuan manajerial yang dimiliki, maka lengkaplah ia menjadi seorang pemimpin, tapi masih banyak juga yang beranggapan bahwa jika perempuan menjadi seorang pemimpin dia akan lebih memerhatikan kepekaan hatinya dalam kata lain baper daripada logikanya dalam mengambil suatu keputusan.

Sejauh ini masih kita dapati keengganan pada diri mahasiwa perempuan untuk terlibat penuh dalam organisasi. Banyak hal mengapa kondisi seperti ini terjadi, satu diantaranya adalah system pendidikan yang mengkondisikan agar setiap mahasiwa harus menyelesaikan target tertentu dalam SKS, yang harus dicapai dalam waktu tertentu. Sehingga mahasiswa banyak disibukkan dengan tugas-tugas dan seabrek kewajiban lainnya, agar ia mendapat nilai yang baik dan lulus dengan waktu yang singkat. 

Mahasiwa perempuan termasuk diantara mahasiwa yang cepat dalam menyelesaikan masa studinya, dengan demikian keinginan untuk berorganisasi menjadi terkendala .selain itu,mahasiswa perempuan milenial sekarang lebih senang menghabiskan waktunya untuk shopping dan sekedar nongkrong di tempat yang kekinian dan mempostingnya di Instastory mereka sehingga terlihat kece,serta  pandangan mereka bahwa organisasi dapat menggangu kuliah mereka,sehingga membuat niat mereka untuk bergabung dalam organisasi sangat minim.

Terlepas dari semua itu, berorganisasi sepenuhnya adalah pilihan, karena itu kesadaran akan tujuan berorganisasi penting untuk ditanamkan. Dalam organisasi ada yang namanya seleksi alam di mana orang-orang yang paling tau tujuan berorganisasilah yang akan bertahan.Tapi jika masuk secara terpaksa maka orang tersebut akan gugur.

Saya berharap  para perempuan khususnya milenial, dapat lebih sadar akan pentingnya organisasi karena ilmu yang didapat tidak bisa diperoleh di bangku kuliah. Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang-kuliah pulang.Tapi jadilah mahasiswa sebagai kader umat dan kader bangsa melalui organisasi. Harus peka terhadap keadaan sosial di sekeliling kita, jadikan organisasi sebagai kebutuhan. 

Hidup Perempuan Indonesia!

Penulis: Iyang Rezky Ananda, Mahasiswa Universitas Negeri Makassar angkatan 2016

https://iyangananda.blogspot.com/2019/09/perempuan-dalam-organisasi_45.html