Pandemi wabah Corona yang berasal dari Wuhan China sejak mulai terdeteksi
menyebar di Indonesia awal Maret 2020, telah merubah gaya hidup (life style) masyarakat Indonesia.
Apalagi sejak himbauan physical
distance sampai pada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan
Pemerintah, maka praktis terjadi perubahan yang signifikan. Salah satunya yang
terdampak langsung adalah dunia Pendidikan. Dimulai dari work from home bagi dosen dan tenaga kependidikan, kuliah daring,
belajar di rumah, belajar melalui media TVRI dan RRI, sampai muncul petisi pembebasan skripsi.
Sejumlah mahasiswa menghadapi tantangan yang tak mudah dalam
menyusun skripsi saat pandemi virus corona. Tantangan yang dihadapi mulai dari
komunikasi dengan dosen pembimbing yang hanya di lakukan via teknologi
komunikasi seperti surat elektronik dan pesan whatsapp hingga pengumpulan data.
Bimbingan skripsi
adalah puncak dari ketahanan dan ketangguhan mahasiswa dalam menulis,
menjelaskan, dan berargumentasi dengan pembimbingnya. Karenanya mahasiswa harus
sabar dan tabah dalam menaklukkan diri sendiri saat menyusun skripsi dan kelak
saat kerja mandiri.
Oleh karena itu, terkait dengan kebijakan tentang tugas akhir (skripsi),
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
sebagaimana yang tertuang dalam surat Nomor 302/E.E2/KR/2020, menegaskan bahwa:
“Penelitian tugas akhir selama masa darurat ini agar diatur baik motode maupun
jadwalnya disesuaikan dengan status dan kondisi setempat”. Ini berarti dapat
difahami bahwa tugas akhir skripsi bagi mahasiswa tetap ada. Sehingga, pimpinan Perguruan Tinggi menilai bahwa tugas akhir berupa
skripsi masih tetap relevan dan kontekstual dilaksanakan. Hanya perlu diatur
metode dan jadwalnya sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Lalu bagaimana para calon sarjana merayakan kelulusan sidang
skripsi di depan layar laptop karena efek corona? Apa traktiran dan syukurannya
bakal online juga?
Bukan hanya soal pertanggungjawaban keilmuan, sidang skripsi secara tradisi
sebenarnya juga menunjukkan apakah kamu adalah orang yang punya banyak teman
semasa kuliah atau tidak Hahaha.
Soalnya, kalau seorang mahasiswa sedang menjalani
sidang, biasanya teman-temannya akan menunggu di depan ruang tempat ia
memaparkan hasil penelitiannya tersebut. Begitu si mahasiswa yang sidang keluar dari ruangan, ia akan langsung disambut
dengan meriah oleh teman-temannya. Diberi kado, selempang, ucapan selamat,
ucapan makian, dan segala macam. Lalu diajak foto-foto di
depan fakultas atau makan-makan di tempat tertentu untuk merayakannya. Tapi untuk hari-hari ini, terhitung sejak pandemi corona mulai mewabah
di Indonesia, sensasi akan kesakralan dan tradisi sidang skripsi agaknya terasa
berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Bagaimanapun, corona
datang dan mengubah banyak hal. Pemerintah mulai membatasi aktivitas di ruang
publik dan orang-orang saling menjaga jarak satu sama lain demi memutus
persebaran virus corona tersebut. Sementara institusi pendidikan
semacam universitas merespons hal ini dengan mengalihkan semua kegiatan
akademik dari luring ke daring. Sidang skripsi, tak terkecuali.
Saya pun punya cerita pada saat melaksanakan sidang secara daring atau
online dan bagaimana saya merayakannya di tengah kondisi di
mana orang lebih memilih berinteraksi lewat media sosial karena sedang
memberlakukan social distancing dan physical distancing.
Saya melaksanakan sidang online di rumah pada Senin, 04 Mei 2020. Sidang berlangsung lancar lewat media Webex, meski
sinyal internet sempat terputus di menit-menit awal presentasi, tetapi hal itu
bisa diatasi dengan baik. Secara personal, saya tidak begitu merasa sedih lantaran
tidak ada teman-teman yang menunggu di depan ruang sidang dan memberi hadiah
selayaknya tradisi mahasiswa biasanya,saya hanya merayakan sidang skripsi online dengan
berfoto ria di rumah dan mengunggah foto tersebut di media sosial Instagram dan
me-repost ucapan-ucapan selamat dari teman-teman saya melalui IG story. Saya
melakukan itu untuk menghargai orang-orang yang telah mendukung saya.
Saat itu saya mengenakan kemeja warna
putih, rok hitam, jas hitam, salempang bertuliskan nama saya,
dan juga membawa bunga-bunga, dibuat seolah saya memang baru saja menghadiri
sidang skripsi secara langsung di kampus hiks. Menurut
saya kesannya cukup menarik sih dan saya kepikiran nanti kalau sudah
S2 atau apa, saya akan menceritakan bahwa saya ini sarjana online atau
bisa juga dibilang sarjana corona hahaha.
Corona memang datang dengan membawa rasa takut dan membuat orang menyingkir
sementara dari tradisi-tradisi sosial yang ada. Tapi tetap saja, seganas apa
pun virus itu, manusia masih memiliki ruang untuk berbangga dan berbahagia atas
pencapaian-pencapain yang ia raih. Sekalipun yang diraihnya itu mendapat label “sarjana online”.
Penulis: Iyang Rezky Ananda Mahasiswa Universitas Negeri Makassar angkatan 2016
https://iyangananda.blogspot.com/2020/05/lulusan-angkatan-corona-katanya.html?m=1