Monday, December 9, 2019

NYAMANNYA PEREMPUAN?



Iyang Rezky Ananda

"Cintamu.. Senyaman mentari pagi seperti pelangi selalu ku nanti"

Lirik lagu dari Andmesh ini pasti tidak asing di telinga kita, apalagi kalau kita sedang berbunga-bunga karena seseorang. Tapi tidak selalu buat yang pacaran, deket saja bisa bikin nyaman.

Saat seorang perempuan sudah nyaman bersama seseorang maka rasa takutnya akan meningkat. Takut kehilangan misalnya. Tak kuasa rasanya membayangkan jika suatu hari nanti kita kehilangan seseorang yang sudah memberi kenyamanan dalam hidup ini.
kita yg sudah terbiasa dengan rasa nyaman itu membuat kita merasa takut kehilangan dia,bahkan saat status bukan seorang pacar. asal masih didekat nya saja itu juga sudah lebih dari cukup.

Terkadang juga muncul rasa egois untuk memilikinya seutuhnya. Tak hanya itu saja, kita juga tak rela bila ia membagi rasa nyamannya pada orang lain. Dan hal ini bisa jadi tak menyehatkan dalam hubungan. Kenapa? Karena rasa egois dan posesif yang berlebih bisa-bisa malah menimbulkan rasa curiga dan hilangnya rasa saling percaya.


Dan memang Salah satu cara yang dipakai oleh kaum adam untuk mendekati perempuan yang disukainya adalah dengan memberikan rasa nyaman. Masalahnya banyak laki-laki yang tidak mengerti konsep ini dan melakukan hal dengan cara yang salah dan berakibat tidak pernah mendapatkan perempuan tersebut.

Banyak laki-laki memulai pendekatannya dengan mengisi posisi sebagai "best-friend" bagi wanita atau "kakak".

Saling bercurhat-curhatan ria berjam-jam tiap hari. Mendengarkan keluh kesah si wanita dengan sabar dan memberikan nasihat-nasihat bijak sambil berharap dalam hati si wanita akan menyadari kedewasaan Anda dan tertarik pada Anda. Dan tentu saja Anda juga menceritakan masalah dan segala keluh kesah Anda pada dia sambil berharap dia akan melihat kemurnian hati Anda yang rapuh dan bersimpatik pada Anda.

Anda berpikir kalau dia sudah merasa nyaman dan dapat membuka diri kepada Anda, itu pertanda anda telah mendapatkan hatinya? jawabannya adalah "SALAH BESAR!"

Rasa nyaman pun terkadang tidak sama dengan rasa suka atau ketertarikan.

Anda memang sudah dapat masuk dalam kehidupannya, dan membuat dirinya merasa nyaman, tapi ada satu hal yang anda lewatkan, yaitu anda belum memberikan kepastian ,dan menggantung perasaannya, Kalau hanya sebatas rasa nyaman, seorang wanita pun bisa mendapatkan itu dari teman wanita nya yang lain dengan mudah.

Sekarang anda sudah tahu bahwa hanya karena perempuan merasa nyaman bersama Anda BUKAN berarti dia bisa langsung memperlakukan ia semaunya. Lihat saja posisi Anda, ketika Anda bersama dengan wanita yang Anda sukai apakah Anda merasa nyaman? Kalau Anda merasa nyaman, kenapa Anda selalu gugup dan berpikir keras untuk memberi kesan baik padanya dan tidak menjadi diri Anda sendiri apa adanya?

Pastikan terlebih dahulu dia juga TERTARIK pada Anda, baru Anda BOLEH bermain 'best-friend' dengannya. Tapi juga dengan kadar SECUKUPNYA.

Kalau dia SUDAH TERTARIK pada Anda, maka apapun yang Anda lakukan tidak akan merubah perasaannya dan rasa nyaman yang Anda berikan hanya akan membuatnya BERTAMBAH tertarik pada Anda. Lagi pula, kalau Anda sudah tau bahwa dia tertarik pada Anda, untuk apa lagi bermain 'best-friend' dengannya? Lebih baik Anda langsung saja ke tahap yang lebih dekat lagi, tahap yang Anda impikan selama ini.

Tapi kalau dia BELUM TERTARIK sama sekali, JANGAN sekali-sekali bermain 'best-friend' dengannya atau Anda akan jatuh dalam lembah aku-suka-kamu-tapi-cuma-sebagai- teman.
Dan JANGAN PERNAH Anda curhat padanya mengenai masalah-masalah Anda, kesepian Anda dan betapa Anda begitu fragile, NO! NO! NO! This area is exclusively for girls and LOSSY guys only.

TAK ADA YANG BISA MENGERTI KEINGINAN SEORANG PEREMPUAN,BAHKAN PEREMPUAN ITU SENDIRI.



Thursday, November 21, 2019

ROMANSA KEHIDUPAN



Hari-hari ku lalui penuh dengan bara dan duri

Membakar asa, menghambat langkah kaki

Namun ku terus berjalan tanpa kata-kata henti

Mencari secercah cahaya dalam langkah tak bertepi



Narsis memang terasa namun itu adalah nyata

Membawa hidup kepada pilu dan lara

Menebar congkaknya kata-kata derita

Merobek jiwa ini, melegamkan pilunya rasa



Akankah semua akan berakhir dengan bahagia

Akhir dari perjalanan dalam mengarungi luasnya bahtera

Ataukah semua akan terbakar bersama buramnya masa

Terkubur bersama mimpi yang telah lama tiada



Namun kuterus tegar dan tetap melangkah menepi

Tak peduli kaki ini hancur terbakar atau tertusuk duri

Aku ingin semuanya berlalu indah penuh arti

Hingga saatnya tiba, ketika tiba-tiba langkah ini terhenti



Haruskah aku berkeluh kesah

Atas semua beban yang kusandung

Meski berat kurasakan

Namun tak seorangpun mampu mendengar

Melihat, merasakan, peduli

Dan meringankan beban pikiran ini


Menerawang,menatap ke depan,kosong

Mencoba lepaskan segala beban

Lagi-lagi kembali membebani di pikiranku


Tuesday, September 24, 2019

MAHA-Siswa


Mahasiswa Universitas Negeri Makassar

"Politik itu barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat dimana kita tidak dapat menghindar diri lagi, maka terjunlah."

Melalui ungkapan dari Soe Hok Gie di atas saya ingin memulai tulisan ini. Bagi saya, itu adalah salah satu nasihat yang benar-benar relevan untuk merefleksikan diri ketika menjadi aktivis mahasiswa.

Memang tidak banyak orang yang mengerti, atau mau mengerti dengan jalan hidup para aktivis mahasiswa. Juga tak mau mereka ambil peduli, atau sekedar bertanya mengapa seseorang bela-belain menjalani aktivitas yang, bagi kaum awam, hanya menguras waktunya untuk sebuah cita-cita yang tak pasti. Bahkan sering sinisme pun ditujukan untuk mereka tentang apa yang mereka lakukan. Hingga habis suaralah kita mencoba meyakinkan kepada mereka, tetap saja kesulitan untuk membuat mereka merestui jalan hidup yang dipilih oleh para aktivis ini.

Apa yang dilakukan oleh seorang aktivis mahasiswa memang bukanlah sebuah wujud praktis yang siap jadi. Justru cenderung melawan wacana publik dan terkesan berbau pemberontakan. Namun memang terlalu sulit untuk merealitakannya kepada orang-orang yang sudah terlanjur memandangnya secara abstrak.

Menjadi aktivis mahasiswa, bagi beberapa orang tertentu, terkadang memang tak bisa untuk diceritakan. Pada dasarnya ia memang bukanlah sesuatu untuk dijelaskan. Ia hanyalah panggilan jiwa tentang kebenaran, yang harus dijalani, yang harus dilakukan.
Satu hal yang akhirnya jelas-jelas berubah pada diri saya sejak saat saya menginjakkan kaki di kampus dan menjadi bagian dari beberapa kelompok dan organisasi mahasiswa adalah munculnya kesadaran bahwa status MAHA-siswa, bukanlah status yang sama biasanya ketika kita pertama kali masuk SD, SMP, atau SMA. Pengetahuan baru pun membuka mata saya, bahwa ada banyak sekali permasalahan lain diluar persoalan akademik di kampus, yang wajib untuk dipikirkan atau at least disadari keberadaannya oleh mereka yang mengaku berstatus mahasiswa.

Bagaimana tidak, negara ini saja dibangun oleh para kaum cendikia. Maka sudah seharusnya mahasiswa sebagai bagian dari pemuda, kaum terdidik, dan sebagai bagian dari generasi millenials yang akan membangun bangsa ini di masa depan, turut terlibat aktif dalam sistem sosial kemasyarakatan kita.

Hal-hal seperti kenaikan harga BBM, korupsi di banyak lembaga negara, hingga persoalan ketidakadilan hukum, kebebasan beragama, dan berbagai ketidakadilan sosial lainnya, adalah contoh realita-realita yang sudah selayaknya direspon oleh mahasiswa. Tidak lagi hanya sekadar ke kampus untuk memikirkan berapa IPK yang harus diraih di akhir semester nanti.

Mahasiswa ke kampus untuk belajar. Dan pembelajaran itu diperoleh jauh lebih banyak di luar lingkaran mata kuliah yang diajarkan dosen di kelas. Kepekaan dan kepedulian sosial, pendidikan moral dan kemanusiaan berdasarkan common courtesy diperoleh ketika mahasiswa bersentuhan langsung dengan masyarakat.

"JADIKAN SETIAP ORANG ADALAH GURU, DAN JADIKAN SETIAP RUMAH ADALAH SEKOLAH" - KI HAJAR DEWANTORO

Penulis: Iyang Rezky Ananda Mahasiswa Universitas Negeri Makassar angkatan 2016

https://iyangananda.blogspot.com/2019/09/maha-siswa.html?m=1

Sunday, September 15, 2019

LULUS 3.5 TAHUN, SIAPKAH KITA?

Intermediate Training BEM FIP UNM 

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus, kita pasti berharap dan punya rencana agar kita bisa menimba ilmu dengan sebaik-baiknya dan bisa lulus kuliah di waktu yang tepat! Lulus tepat waktu adalah dambaan setiap mahasiswa. Ya tidak? Setiap ketemu orangtua, keluarga besar dan orang sekitar, ketika bertemu kata yang paling sering dan mudah terucap adalah “semoga cepat lulus”. Mereka tidak peduli dengan yang masih semester awal atau semester akhir. Yang mereka tahu adalah kita sedang kuliah dan tujuan  lulus, lalu mencari pekerjaan.

Saya teringat pada apa yang dikatakan senior saya bahwa ijazah hanyalah formalitas sebagai prasyarat dasar kita melamar pekerjaan. Jikalau kita lolos pada administrasi awal selanjutnya adalah kapasitas dan kemampuan kita diuji oleh serangkaian test yang dilakukan oleh perusahaan. Jikalau kita sudah mengikuti serangkaian test dan kemudian lulus, berarti mulai dari situ kita sudah menjadi bagian dari perusahaan.

Dalam artian sesungguhnya ijazah adalah bukti valid kita telah selesai mengenyam pendidikan di sebuah instansi atau lembaga tempat belajar. Apa yang ada dalam ijazah adalah nilai-nilai yang kita terima dari pengajar dari proses panjang pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dengan memiliki ijazah yang resmi tentu itu adalah awal untuk melanjutkan proses yang lebih baik. Tetapi, apa yang ada dalam ijazah tidak membuat serta merta keadaan kita menjadi aman. 
Oleh karenanya ijazah yang dimiliki tidaklah bisa dijadikan landasan konkrit kita berada dalam naungan perusahaan. Hal-hal lain masih perlu dipertimbangkan saat kita sudah menyerahkan berkas lamaran untuk perusahaan tersebut.

Melihat penjelasan diatas,timbullah pertanyaan bagaimana dengan nasib para mahasiswa yang lulus 3,5 tahun? Kelihatannya ini menjadi kegelisahan bagi para mahasiswa tahun terakhir. Yang pasti para pengejar 3,5 tahun ini punya alasan masing masing. Mulai dari alasan ekonomi,alasan beasiswa yang di cabut jika melebihi batas tahun, ingin cepat menikah atau hanya untuk sekedar eksistensi saja ingin mendapat gelar diwisuda 3,5 tahun. Terlepas dari alasan itu semua yang perlu di pertanyakan disini,sudah siapkah kita?

Sebenarnya disini saya juga masih menyayangkan teman-teman pengejar 3.5 tahun yang belum memiliki kontribusi  dan pengalaman yang banyak selama studi 3,5 tahun belakangan ini.  Waktu 3,5 tahun menurut saya bukan waktu yang singkat, namun sangatlah disayangkan jika hanya mengambil manfaatnya saja untuk mengambil ilmu dan kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Apalagi tidak mengembalikannya kepada fakultas, universitas dan Negera Indoesia tercinta.

Menurut saya 3,5 tahun bukan waktu yang singkat untuk memberi kontribusi, aktif dalam organisasi, melakukan pengabdian masyarakat, memberi kontribusi pemikiran lalu menuangkannya dalam essay maupun tulisan. Melakukan magang, international exposuresummer program, hingga conference di LN, seperti yang dikatakan salah satu Dosen UNPAD di akun twitternya dan lagi marak di bicarakan di media sosial saat ini. Sudah kah kita melakukan itu semua? Jika belum, lalu apa yang telah kita lakukan selama 3,5 tahun ini? Dan pertanyaan selanjutnya adalah, lulus 3,5 tahun sudah pantas kah kita?

Dibalik kontroversi yang tiada ujung di kalangan mahasiswa, sebenarnya lulus 3,5 tahun atau 4 tahun adalah sama-sama baik. Baik jika lulus 3,5 tahun namun disertai Indeks Prestasi yang cemerlang, skill yang tidak diragukan meski dipelajari hanya dalam 3,5 tahun, segudang prestasi dan kontribusi yang siap digunakan untuk bekal masa depan, disertai dengan mental sekaligus kemampuan leadership yang baik yang didapat dari pengalaman organisasi dan sudah terencana dengan sangat matang.

Para pejuang lulusan 3,5 tahun tentunya  memiliki rencana apa yang akan dilakukan setelah lulus baik untuk bekerja. Wirausaha atau melanjutkan studi yang tentunya sejalan dengan apa yang selama ini digeluti di bangku kuliah. Karena waktu bukan menjadi alasan untuk menjadi luar biasa, jika yang lulus 4 tahun pun juga masih banyak yang belum siap, lulus 3,5 tahun mengapa tidak, jika semua sudah dipersiapkan untuk menjadi siap?

Namun, lulus 4 tahun pun juga baik. Dan yang sering dipertanyakan adalah, kenapa harus 4 tahun jika 3,5 tahun juga bisa? Lantas satu semester terakhir yakni semester 8  yaitu saat sudah tidak ada beban mata kuliah, apa yang harus dilakukan di kampus? Mereka justru memiliki ruang lebih banyak untuk memanfaatkan status mahasiswanya lebih lama. Satu semester terakhir bisa digunakan untuk menggenjot prestasi, student exchange, kontribusi di organisasi atau menambah skill dengan magang.

Lalu apa yang kurang baik? Yang kurang baik adalah yang lulus 3,5 tahun dengan hanya ingin mengejar kecepatan waktu, tanpa ada kontribusi, prestasi, skill dan ilmu yang masih sangat minim, mental yang belum terlatih dan tidak merencanakan masa depannya karena yang diprioritaskannya hanyalah hasil, yaitu cepat lulus.

Waktu lulus adalah sebuah pilihan, yang pasti harus direncanakan dengan matang. Jika lulus 3,5 tahun harus dipersiapkan rencana selanjutnya untuk studi lanjut atau bekerja. Sedangkan jika lulus 4 tahun pun juga harus dipersiapkan, apa saja yang akan dilakukan saat semester terakhir untuk mengerjakan skripsi sembari melakukan hal-hal yang produktif dan mempersiapkan hal-hal yang belum dipersiapkan. Hidup Mahasiswa!

Penulis: Iyang Rezky Ananda, Mahasiwa Universitas Negeri Makassar angkatan 2016

https://iyangananda.blogspot.com/2019/09/lulus-35-tahun-siapkah-kita.html

TERUNTUK YANG TELAH MENDAHULUI PERGI

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu
Kerinduan akan masa kecil bersamaMu
Kini hanya bisa kukenang, dan tak bisa terulang kembali
Meskipun kini telah berbeda dimensi dunia
Aku yakin Kau akan bahagia
Hanya do'a yang dapat kuberikan padaMu
Sebagaimana apa yang kau telah kau berikan kepadaKu semasa kau bersamaKu
Semoga dengan do'a dariMu aku menjadi seorang pahlawan sepertiMu, tegas, berwawasan, dan berjiwa kasih
Aku sangat rindu padaMu
Sampai hari ini kau  telah pergi  sudah 8 tahun yang begitu cepat waktu berlalu
Masih terasa goresan luka dengan kepergianMu
Kini semua benar - benar berlalu dengan kepergianMu
Kini dengan kepergianMu hati ini sedih bercampur pilu

Dan tangis ini bercampur rindu
Sesungguhnya aku masih membutuhkan kasih dan sayang dariMu
Masih ingin dipelukanMu
Namun? apalah dayaKu
Kini ku hanya bisa memandang batu nisan
Yang terukir namaMu
Dan yang akan mengenang jasa dan kebaikanMu
Menuruti semua nasihatMu
Do'a aku menemaniMu disana
Semoga Allah mengampuni segala dosa - dosaMu
Dan semoga Allah menerima segala amalan ibadahMu
Walaupun amalanMu tak ada yang tahu 
Dan semoga tempat yang baik dan layak diberikan kepadaMu
Aku disini yang masih setia menyayangiMu
Yang tak mampu Ku kenang masa indah saat bersama dengan diriMu
Disaat berkumpul bersama - sama dengan keluarga kecil yang terukir bersama dengan diriMu

Yang disaat kau menemaniku dikala tidurKu
Sungguh tak bisa ku mengingat semua perjalanan itu
Disetiap ku ingat air mata ini tak dapat ku bendungi semua ini tanpa ada dirimu
Sekarang tawamu tak bisa ku dengarkan, dan tak bisa ku melihat senyuman yang ada diwajahMu
Namun? semua itu tak bisa kuulang lagi disaat ku bersama denganMu
Karena batu nisamu yang telah mengahalangiKu
Ya Allah, ia telah melaksanakan amanah yang telah engkau berikan kepadanya
Kumohon, kasihilah ia seperti ia telah mangasihiku dulu hingga kepergiannya
Dan sayangilah ia seperti ia menyangiku dulu
Sungguh, kami sangat menyanginya sampai selama - lamanya
Dan pertemukanlah kami disurgamu nanti.



Wednesday, September 11, 2019

MENGENANG BJ HABIBIE MELALUI INSPIRING QUOTES-NYA




Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab disapa Bapak BJ Habibie, lahir pada tanggal 25 Juni 1936 di Parepare. Sepanjang hidupnya, Habibie dikenal telah menelurkan puluhan inovasi di bidang teknologi Aeronautical. Tak hanya itu, ahli penerbangan ini juga terkenal sebagai sosok jenius yang romantis.
Habibie juga merupakan tokoh yang dikenal oleh lintas generasi.  Perjalanan kehidupan seorang Habibie pernah diangkat menjadi sebuah film berjudul Habibie & Ainun. Film tersebut sukses menjadi film yang menginspirasi kita semua. Tidak hanya cinta, tetapi juga motivasi agar kita bekerja dengan sungguh-sungguh dalam mencapai cita-cita kita.
Presiden ketiga RI, dikabarkan meninggal dunia pada hari Rabu,11 September 2019. Salah satu Putra terbaik bangsa ini, meninggal setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit sejak tanggal 1 September 2019.

Meski ia sudah tiada, kata-kata mutiara yang diucapkan Habibie akan terus dikenang oleh generasi-generasi penerusnya.

Berikut kumpulan quotes BJ Habibie yang akan selalu dikenang sepanjang masa:

1. Quotes Habibie Untuk Pemuda
1.Tidak ada gunanya IQ anda tinggi namun malas, tidak memiliki disiplin. Yang penting adalah Anda sehat dan mau berkorban untuk masa depan yang cerah.
2.Jadilah mata air jernih yang memberikan kehidupan kepada sekitarmu, filsafat dari Ayah saya.
3.Jadilah anak muda yang produktif, sehingga menjadi pribadi yang profesional dengan tidak melupakan dua hal, yaitu iman dan takwa.
4.Kenapa kita ada di sini (hidup di dunia)? Karena kita diberikan kesempatan oleh tuhan untuk menikmati hidup yang singkat ini.
5.Ketika muda kita habisi dengan bermalas-malasan maka tua juga akan malas-malasan lalu tak terasa besok mati, namun kalau kita banyak belajar dan banyak analisa maka saat dia tua dia menang.
6.Tiap manusia harus meletakkan jejak-jejak. Jejak itu mencerminkan “personality” masing-masing dan akan dibaca oleh rakyatnya sendiri dan itu yang penting. Dunia ini tidak buta dan tuli.
7.Kalau bukan anak bangsa ini yang membangun bangsanya, siapa lagi? Jangan saudara mengharapkan orang lain yang datang membangun bangsa kita.


2.Quotes Habibie Untuk Pemimpin Indonesia
1.Pemimpin itu harus mengutamakan hubungan relasi penuh kasih sayang dan penuh penghargaan (Bukan untuk penghargaan tapi untuk melayani sesama manusia) dibandingkan status kekuasaan semata.
2.Pemimpin sejati itu adalah senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek. Kemauan belajar tersebut ditujukan untuk dirinya dan rakyatnya.
3.Karakter pemimpin yang harus dimilki saudara jika menjadi seorang pemimpin adalah menguasai IMTAQ, IPTEK, berlapang dada menerima kritik, rendah hati, memahami orang lain dan paling penting adalah mengenali dirinya sendiri. Mengenali dan mengupayakan yang terbaik untuk diri sendiri dan yang sedang dipimpin.

3.Quotes Habibie Tentang Islam
1.Islam adalah agama yang tenang dan tidak memiliki pelajaran untuk menjadi teroris, aksi kekerasan. Karena Islam adalah agama yang begitu dekat dengan nilai demokrasi.


4.Quotes Habibie Tentang Cinta
1.Cinta adalah enegeri positif yang bisa menggerakan kehidupan menjadi lebih indah.
2.Cinta dapat kita artikan sebagai rasa yang ditimbulkan kepada pasangan, orang tua, sesama, lingkungan hingga kepada bangsa dan negara.
3.Tak perlu seseorang yang sempurna, cukuplah menemukan orang yang selalu membuat anda bahagia dan membuat hidup ini lebih dari siapapun.
4.Cinta sejati itu memandang kelemahan lalu dirubah menjadi sebuah kelebihan untuk selalu mencintai.
5.Walaupun raga telah terpisah dengan kematian, namun cinta sejati tetap tersimpan rapih dalam relung hati.
6.Kesetiaan berarti ketulusan untuk menyimpan satu hati di dalam hati, dan berjanji untuk tidak mengkhianati.
7.Persahabatan sering berakhir dengan cinta. Tetapi cinta kadang berakhir bukan karena persahabatan.
8.Tanpa cinta, kecerdasan merupakan sebuah bahaya, dan tanpa kecerdasan, cinta tidaklah cukup.
9.Cinta itu bukanlah sebuah tatapan satu sama lain, tetapi memandang ke luar bersama ke arah yang sama.
10.Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, namun masa depan adalah milik kita bersama.
11.Cinta sejati bisa dikelompokkan menjadi tiga. Pertama cinta kepada sesama umat manusia, kedua cinta pada karya sesama manusia seperti budaya, iptek.

“Maut memang bisa mengambil mereka  yang gemilang, yang akan abadi tinggallah pikiran yang cemerlang. Karena visi memang melampaui panjangnya usia, pemikir tak pernah benar-benar meninggalkan dunia. Habibie sejatinya tidak pernah pergi, ide-idenya akan abadi hingga kapan nanti. Giliran kita merawat segala yang ia wariskan, tentang bangsa yang bertumpu pada pengetahuan. Dialah sang penemu yang mencintai tanpa jemu, yang pulang ke tanah air walau diserbu bujuk rayu. Baginya panggilan ibu pertiwi adalah yang utama, melampaui iming-iming yang disodorkan dunia. Habibie kini sudah terbang menuju keabadian, kita bersaksi ia telah menunaikan kebaikan.” (NAJWA SHIHAB)
Selamat jalan bapak teknologi Indonesia, Bapak Demokrasi Indonesia serta Presiden RI ke-3. Terimah kasih atas segala yang telah engkau berikan bagi "INDONESIA TERCINTA"

Penulis: Iyang Rezky Ananda

https://iyangananda.blogspot.com/2019/09/mengenang-bj-habibie-melalui-quotesnya.html

Wednesday, September 4, 2019

KKN: KULIAH KERJA NYATA ATAU KISAH KASIH NYATA?


Iyang Rezky Ananda
KKN-PPL UNM ANGKATAN XIX
Program KKN (Kuliah Kerja Nyata) sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dengan sistem pendidikan yang berlaku di perguruan tinggi di Indonesia secara umum. Kegiatan KKN merupakan satu prasyarat yang harus diikuti oleh mahasiswaa/i, dan seorang calon sarjana perlu mendapat nilai lulus sebelum mengikuti tahapan selanjutnya dalam penyelesaian pendidikan sarjananya.

Awal bulan september ini, mahasiswa tingkat semester 7 disibukkan dengan program wajib universitas, yaitu Kuliah kerja nyata atau KKN.  Berdasarkan kaca mata saya saat mengamati mahasiswa-mahasiwa yang hendak berangkat KKN. Mereka kebanyakan sangat antusias menyambut momen sekali dalam proses perkuliahannya. Memang, momen KKN adalah momen yang hanya bisa didapat ketika menempuh studi di perguruan tinggi, khususnya yang menempuh studi di universitas.

Saya pun turut menjadi bagian dari euforia menyambut program KKN. Saya  sendiri membayangkan program KKN sudah sejak menjadi mahasiswa baru. Membayangkan dalam kegiatan tersebut hidup 3 bulan bersama teman - teman baru lintas jurusan, menjalankan urusan rumah tangga bersama, menjalankan program kerja yang sudah direncanakan jauh - jauh hari bersama kelompok. Sebab itu, saya tertarik untuk memberikan opini terkait KKN.

Namun seiring berjalannya waktu banyak plesetan singakatan dari KKN itu sendiri bermunculan, contohnya Kisah Kasih Nyata, Seperti banyak terjadi kisah yang sering disebut cinlok atau cinta lokasi berdasarkan pengalaman mahasiswa-mahasiwa yang telah melakukan KKN sebelumnya.

Untuk sesama spesies jomblo hal ini sah-sah saja. Lalu, bagaimana dengan ketenangan pasangan yang terpisah jauh akibat ajang ini? Semoga tidak merapuhkan, namun justru menguatkan.

Rasa suka itu bisa saja timbul karena kebiasaan. Kebiasaan melihatnya memasak, kebiasaan melihatnya tertidur karena tak kuasa menahan kantuk saat rapat, kebiasaan bepergian bersamanya untuk mengurusi proker (modus), dan kebiasaan mengabadikan momen bersama dalam frame kamera. Semua kebiasaan itu akhirnya membuat mereka merasa nyaman satu sama lain dan terbitlah cinta lokasi ala pemain sinetron yang terlibat cinlok. Begitulah, seperti sedang bermain drama, hari-hari kalian terasa lebih berwarna karena kehadirannya.

Namun, hal tersebut sudah melenceng dari niat awalnya, Tujuan dari pada KKN adalah suatu bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu di Indonesia. Program yang dilaksanakan tiap perguruan tinggi berbeda-beda tergantung pada disiplin ilmu yang terkait serta kebutuhan masyarakat dari daerah yang dituju sebagai tempat pelaksanaan KKN. Program yang dibuat dapat terbagi menjadi program umum seperti peringatan hari besar, pemberdayaan masyarakat, dan program khusus yang terkait tema besar suatu tim KKN.

Selain memaknai sebagai saat yang tepat untuk mencari pendamping hidup, Ada yang memaknai hanya sebagai penuntasan SKS, ada juga yang memanfaatkan KKN sebagai ajang adu kualitas program studi. Meskipun tidak menutup kemungkinan masih ada yang memiliki orientasi pengabdian.

Terlepas dari itu semua KKN merupakan sebuah wadah nyata, di mana penggambaran kehidupan setelah perkuliahan terpampang jelas di sana. Siapa yang mampu menyesuaikan, dia-lah yang dapat bertahan. Dalam beberapa kesempatan, embel-embel ‘maha’ yang melekat menjadikan kehadiran diri sebagai yang spesial, diutamakan. Namun terkadang lupa bahwasanya ada harapan dan cita-cita yang sebisa mungkin harus diwujudkan.

Sejatinya, banyak hal yang bisa kita jemput dalam kegiatan KKN itu. Pelajaran, pengalaman, bahkan hal kecil bernama cinta bagi mereka yang sudah siap untuk jatuh. Selain masyarakat yang akan menyambut keberadaan kita dengan suka cita, kehadiran cinta juga akan selalu menyapa, di manapun kita berada, termasuk lokasi KKN.

Penulis: Iyang Rezky Ananda, Mahasiswa Universitas Negeri Makassar angkatan 2016

https://iyangananda.blogspot.com/2019/09/kkn-kuliah-kerja-nyata-atau-kisah-kasih.html

Thursday, February 28, 2019

PEREMPUAN DALAM GERAKAN


 Pengurus Maperwa FIP UNM periode 2018/2019

Suatu lembaga terdiri dari kumpulan manusia yang memiliki tujuan yang sama dengan visi yang sama. Tentunya dengan demikian lembaga tersebut akan menjadikan SDMnya menjadi manusia yang bisa bersaing dalam kehidupan sosial,sehingga keberadaan perempuan bukan lagi pelengkap bagi kaum laki-laki, perempuan jika mau ia bisa berkarier dan bahkan mengubah dunia. Begitu pun dalam tataran organisasi, peran perempuan amat penting.

Lelaki yang tidak didampingi oleh perempuan,demikian juga sebaliknya bagaikan perahu tanpa sungai,malam tanpa bulan atau biola tanpa senar.

Coba kita  mencermati kedudukan perempuan dalam organisasi kemahasiswaan. Saat ini telah banyak perempuan yang terlibat di organisasi. Namun kebanyakan mereka hanya menjadi bunga-bunga atau penggembira, mereka tidak menempati kedudukan yang cukup penting dalam organisasi. Namun kini kita cukup berbangga jika melihat sudah ada satu dua perempuan yang mau menduduki posisi ketua dalam organisasi. Walaupun belum seperti yang diinginkan, dalam arti belum begitu banyak jumlahya, kita patut mengancungkan jempol kepada perempuan-perempuan yang berani memilih untuk memposisikan dirinya sebagai pemimpin organisasi. 

Karena dari pandangan kasat mata saya,mahasiswa perempuan memiliki indeks prestasi lebih unggul daripada mahasiswa laki-laki. Keunggulan ini merupakan modal awal untuk bergerak maju, ditambah lagi dengan modal kemampuan manajerial yang dimiliki, maka lengkaplah ia menjadi seorang pemimpin, tapi masih banyak juga yang beranggapan bahwa jika perempuan menjadi seorang pemimpin dia akan lebih memerhatikan kepekaan hatinya dalam kata lain baper daripada logikanya dalam mengambil suatu keputusan.

Sejauh ini masih kita dapati keengganan pada diri mahasiwa perempuan untuk terlibat penuh dalam organisasi. Banyak hal mengapa kondisi seperti ini terjadi, satu diantaranya adalah system pendidikan yang mengkondisikan agar setiap mahasiwa harus menyelesaikan target tertentu dalam SKS, yang harus dicapai dalam waktu tertentu. Sehingga mahasiswa banyak disibukkan dengan tugas-tugas dan seabrek kewajiban lainnya, agar ia mendapat nilai yang baik dan lulus dengan waktu yang singkat. 

Mahasiwa perempuan termasuk diantara mahasiwa yang cepat dalam menyelesaikan masa studinya, dengan demikian keinginan untuk berorganisasi menjadi terkendala .selain itu,mahasiswa perempuan milenial sekarang lebih senang menghabiskan waktunya untuk shopping dan sekedar nongkrong di tempat yang kekinian dan mempostingnya di Instastory mereka sehingga terlihat kece,serta  pandangan mereka bahwa organisasi dapat menggangu kuliah mereka,sehingga membuat niat mereka untuk bergabung dalam organisasi sangat minim.

Terlepas dari semua itu, berorganisasi sepenuhnya adalah pilihan, karena itu kesadaran akan tujuan berorganisasi penting untuk ditanamkan. Dalam organisasi ada yang namanya seleksi alam di mana orang-orang yang paling tau tujuan berorganisasilah yang akan bertahan.Tapi jika masuk secara terpaksa maka orang tersebut akan gugur.

Saya berharap  para perempuan khususnya milenial, dapat lebih sadar akan pentingnya organisasi karena ilmu yang didapat tidak bisa diperoleh di bangku kuliah. Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang-kuliah pulang.Tapi jadilah mahasiswa sebagai kader umat dan kader bangsa melalui organisasi. Harus peka terhadap keadaan sosial di sekeliling kita, jadikan organisasi sebagai kebutuhan. 

Hidup Perempuan Indonesia!

Penulis: Iyang Rezky Ananda, Mahasiswa Universitas Negeri Makassar angkatan 2016

https://iyangananda.blogspot.com/2019/09/perempuan-dalam-organisasi_45.html